Jumat, 04 November 2011

PANDANGAN THOMAS AQUINAS TENTANG PENCIPTAAN DAN RELEVANSINYA BAGI UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

PANDANGAN THOMAS AQUINAS TENTANG PENCIPTAAN DAN RELEVANSINYA BAGI UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Alfonsus Sam | Theology Department-STKIP St. Paulus

Abstract:
Kampanye menyelamatkan bumi merupakan kampanye raksasa yang diperankan oleh umat manusia dalam banyak cara. Kampanye tersebut tentu bukan hanya merupakan suatu retorika belaka tanpa visi yang jelas melainkan sebagai sebuah kampanye yang mesti dikonkritkan berupa tindakan melestarikan lingkungan hidup. Hal ini tentu berpangkal dari sebuah pola pikir yang rasional dan bijak. Melalui tulisan ini, penulis hendak mengajak pembaca untuk menyelami gagasan creatio ex nihilo, gagasan penciptaan menurut Thomas Aquinas dan menggunakannya sebagai inspirasi bagi upaya pelestarian lingkungan hidup.

Key-words: gagasan penciptaan, manusia, lingkungan hidup

1. PENGANTAR
E.F. Schumacher[1] pengarang buku “kecil itu indah” mengatakan bahwa kerusakan lingkungan hidup dewasa ini pertama-tama bukan disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan juga karena manusia kekurangan pengetahuan dan informasi tentang pentingnya lingkungan hidup melainkan disebabkan oleh gaya hidup dunia modern yang berakar dalam cara pandang tertentu terhadap lingkungan hidup. Senada dengan hal tersebut, Lyne White, Jr,[2] mengemukakan bahwa akar krisis lingkungan hidup ialah pandangan antropologi Yahudi-Kristen yang berakar dari kisah penciptaan dalam kejadian 1:26-28. Menurutnya, pandangan dalam tradisi ini menekankan dominasi manusia atas lingkungan hidup. Manusia memiliki kekuasaan yang mutlak atas alam.
Bagi orang yang kurang jeli membaca maksud penulis kitab kejadian melukiskan kisah penciptaan seperti itu, mungkin akan mengamani pendapat White dan Schumacher di atas. Mungkin terlalu ekstrim berpendapat seperti itu karena masih ditemukan banyak ajaran dalam tradisi Yahudi-Kristen yang memberikan penghormatan terhadap lingkungan hidup. Akan tetapi, pendapat yang bernada kritikan dari kedua ahli tersebut di atas pantas juga untuk diilhami, secara khusus dalam menjawabi pertanyaan: apa yang harus saya lakukan terhadap lingkungan hidup agar dia tetap lestari dan menjadi tempat yang aman bagi kehidupan?
Melalui kajian ini, penulis mengajak pembaca untuk menyelami gagasan penciptaan Thomas Aquinas, filsuf dan teolog Kristen yang memberi pemahaman yang konprehensif tentang penciptaan menurut ajaran Kristiani yakni gagasan creatio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan). Hemat penulis, kajian-kajian bernafaskan filsafat seperti ini akan mampu mengubah cara pandang masyarakat manusia terhadap lingkungan hidup. Pada gilirannya, manusia yang adalah juga adalah imago Dei, akan menjalankan perannya di bumi sebagai wakil Sang Pencipta dan semua masyarakat manusia dalam keberadaannya akan mengajak satu sama lain untuk bergiat menjalankan kampanye menyelamatkan bumi agar bumi tetap lestari sesuai dengan kehendak sang pencipta.





2. PANDANGAN THOMAS AQUINAS TENTANG PENCIPTAAN
2.1   Mengenal Thomas Aquinas[3]
Thomas Aquinas, filsuf dan juga Teolog Kristen, dilahirkan di Rocca Secca, sebuah kota kecil di antara kota Roma dan Napoli Italia, antara akhir tahun 1224 dan awal 1225. Thomas lahir sebagai putera bungsu pasangan Landolfo Aquino, seorang bangsawan Lambordia dan Donna Thedora, puteri bangsawan Normania.
Pendidikan Dasar dijalankannya di sebuah Biara Benediktin di Monte Cassino. Di sana ia mengikuti latihan rihani yag keras, hidup dengan aturan yang ketat, mempelajari elemen-elemen kesalehan seperti refleksi, kontemplasi dan praktek hidup bathiniah, serta mempelajari tata bahasa dan menulis. Pada tahun 1239, ia melanjutkan studinya di Universitas kekaiseran Napoli. Di sanalah Thomas mempelajari filsafat alam dan berkenalan dengan karya-karya Aristoteles.
Tahun 1243, Thomas memutuskan masuk ordo Dominikan dan secara resmi menerima serta mengikuti cara hidup St. Dominikus. Walaupun hal itu tidak direstui keluarganya, namun Thomas tetap teguh pada keputusannya untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Alhasil, tahun 1252 ia ditabiskan menjadi imam. Di biara inilah Thomas bertemu dengan Albertus Magnus dan menjadi muridnya.
Thomas Aquinas terkenal sebagai mahasiswa yang pandai dan tekun. Tanggal 12 Agustus 1257, Thomas dikukuhkan menjadi magister Teologi dari universitasnya dan menjadi guru teologi pada universitasnya itu. Selanjutnya perjalanan hidupnya dipusatkan untuk mengabdi sebagai guru/dosen teologi di beberapa universitas di Roma, Paris dan Napoli Italia. Banyak waktunya juga dihabiskan untuk menulis buku-buku yang berkaitan dengan Teologi dan filsafat.
Tahun 1274, Paus Gregorius X mengundangnya untuk menghadiri konsili di Lion, tetapi ia meninggal dalam perjalanan di biara Cistercian di Fossanova pada tanggal 7 maret 1974.
Selama hidupnya, Thomas Aquinas menulis banyak karya, baik yang berhubungan dengan kehidupan religius maupun yang berhubungan dengan kepentingan kehidupan intelektual pada masanya. Keseluruhan karyanya dapat dikelompokan atas dua bagian besar yakni karya-karya filosofis dan karya-karya teologis. Karya-karya filosofis dibedakan dalam tiga bagian yakni bagian pertama berupa komentar terhadap karya-karya Aristoteles, bagian kedua, komentar atas karya Liber de Causis dan bagian ketiga berupa Opuscula yang terdiri dari 20 buku. Sementara karya-karya Teologis dibagi dalam tujuh kelompok yakni karya teologi sistematik, Disputationes Academicas(terdiri dari 8 buku), opuscula (ada 12 buku), karya-karya apologetis (ada 4 buku), gagasan sebagai seorang ahli (ada 6 buku), asketisme dan kehidupan religius (ada 10 buku), dan beberapa karya eksegetis.
Thomas Aquinas memang seorang pribadi intelektual yang amat unik karena berhasil mengawinkan kesucian spiritual (iman) dengan kepedulian dan kesabaran tak terbatas terhadap intelek (akal budi). Ia adalah filsuf dan sekaligus teolog kristen yang sangat masyur. Sebagai filsuf abad pertengahan, ia terkenal dengan interpretasinya terhadap karya-karya Aristoteles, mengkaji dan memaknainya secara baru. Sebagai seorang teolog, ia juga dikenal sebagai teolog terbesar dalam gerjea katolik berkat sumbangannya yang tak ternilai bagi perkembangan iman dan ajaran gereja katolik.




2.2  Pandangan Thomas Aquinas tentang Penciptaan

Pandangan yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas berpijak dari ajaran Kitab Suci Kristen mengenai kisah penciptaan. Thomas mencoba memberi pendasaran filsafat pada kisah penciptaan tersebut. Menurutnya, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Tuhan tidak hanya mengadakan alam semesta, tetapi juga menyebabkannya berada terus. Keberadaan dan kelangsungan dunia/alam semesta tergantung penuh pada Tuhan.[4] Segala sesuatu yang diciptakan mengambil bagian / berpartisipasi dalam adanya Allah. Partisipasi tersebut bukan secara kuantitatif melainkan secara dependensi, artinya bukan seolah-olah setiap makhluk mewakili sebagian kecil dari tabiat ilahi, melainkan semua ciptaan menurut adanya tergantung mutlak dan berperan serta dalam diri sang Pencipta.[5] Itulah sebabnya, manusia ditetapkan Tuhan sebagai wakil Allah yang bertugas untuk menghadirkan kebijaksaan Allah di dunia.
Lebih lanjut, mengikuti alur pemikiran para Bapa Gereja Thomas menegaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan ( ex nihilo), suatu penciptaan dari yang tidak ada/ Creatio ex nihilo. Gagasan creatio ex nihilo ini menegaskan dua hal penting berikut. Pertama, dunia tidak diciptakan dari semacam bahan dasar yang telah tersedia, entah bahan itu Allah sendiri (melawan Panteisme) atau juga prinsip kedua selain Allah (melawan dualisme), tetapi ciptaan-ciptaan menurut adanya tergantung pada Allah. Kedua, penciptaan tidak tergantung pada satu saat saja tetapi merupakan perbuatan Allah secara terus menerus (Creatio Continua/Conservatio). Dengan perbuatan penciptaan itu, Allah terus-menerus menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara.[6] Tugas manusia sebagai wakil Allah justru nampak pada pada bagaimana manusia melestarikan alam ciptaan Allah itu. Manusia mesti menjadi conservator yang terus menerus bertugas melestarikan alam agar tetap tampil sebagai kosmos yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

2.3 Thomas Aquinas tentang Manusia
Thomas Aquinas menekankan bahwa manusia adalah suatu kesatuan yang terdiri dari jiwa dan badan. Dengan tesis dasar anima forma corporis, dan mengacu pada ajaran Hylemorfisme, Thomas menegaskan bahwa, jiwa dan badan bukanlah merupakan dua substansi yang masing-masing bisa berada sendiri, melainkan dua prinsip metafisis yang bersama-sama menjadi nyata dan ada. Manusia  itu seluruhnya jiwa dan seluruhnya badan.[7] Dengan demikian manusia tidak bisa hidup hanya badan saja atau hanya jiwa saja. Kedua unsur ini selalu ada pada manusia dan tidak bisa dilepaspisahkan.
Jiwa menjalankan aktivitas-aktivitas yang melebihi sifat badaniah yakni aktivitas berpikir dan berkehendak yang disebut aktivitas rohani. Karena jiwa bersifat rohani, maka setelah kematian badan, jiwa hidup terus dalam ujudnya sebagai bentuk yang tetap mempunyai keterarahan pada badan.[8]
Menurut Thomas, setiap perbuatan, termasuk kegiatan berpikir dan berkehendak adalah perbuatan dari segenap pribadi manusia yang dijiwai oleh satu bentuk utama yakni bentuk rohani. Jiwa yang satu ini mempunyai lima daya yakni daya vegetatif, daya sensitif, daya yang menggerakkan, daya untuk berpikir dan daya untuk mengenal.[9] Dengan kelima daya ini manusia dapat menunjukkan keberadaannya sebagai manusia yang berbeda dari makhluk hidup lainnya. Kekhasan manusia justru terletak pada keberadaannya sebagai makhluk yang berakal budi dan memiliki kehendak/kemauan bebas dan berperasaan. Dengan akal budinya manusia dapat berpikir untuk menjalin relasi dengan orang lain dan juga unsur-unsur lain yang mendiami kosmos. Manusia juga peka terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya.

3.      UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM TERANG “GAGASAN PENCIPTAAN” THOMAS AQUINAS
Lingkungan hidup dimengerti sebagai semua benda, baik baik itu benda hidup maupun benda yang tidak hidup, daya dan kondisi dalam satu kesatuan ruang, yang termasuk di dalamnya manusia dan perilakunyayang mempengaruhi kesejahteraan hidup dan perilaku manusia serta makhluk hidup lainnya.[10] Lingkungan tersebut merupakan dunia kehidupan yang dihayati manusia. Tak dapat disangkal lagi bahwa manusia sangat membutuhkan lingkungan hidup dalam keberlangsungan hidupnya. Manusia dan juga unsur-unsur kosmos yang lainnya sangat membutuhkan tempat, ruang dan suasana yang aman bagi kehidupan dan keberadaannya. Hal ini akan berkelanjutan apabila lingkungan hidup itu dilestarikan.
Melestarikan lingkungan hidup berarti memperlakukan benda alam sedemikian rupa sehingga lingkungan hidup dan ekosistem di dalamnya tetap dipertahankan.[11] Artinya harus dijaga agar tetap ada air bersih, tanah subur, udara segar, hutan lindung, aneka binantang dan lain-lain. Pada bagian ini, penulis menyelami gagasan penciptaan menurut Thomas Aquinas dan mencoba menerapkannya dalam usaha melestarikan lingkungan hidup.

3.1  Lingkungan Hidup dan manusia merupakan Hasil Karya Allah
Alam semesta merupakan karya ciptaan Allah. Lingkungan hidup, sama seperti manusia juga merupakan sesama karya ciptaan Allah. Konsekuensinya ialah bahwa kalau semuanya merupakan sesama ciptaan, maka ada kesetaraan di dalamnya. Tidak ada yang menempati posisi lebih dari yang lain, tetapi semuanya sama sebagai rekan ciptaan hasil karya sang pencipta.
Lingkungan hidup dan manusia tidak diciptakan dari semacam bahan dasar yang telah tersedia, entah bahan itu Allah sendiri (melawan Panteisme) atau juga prinsip kedua selain Allah (melawan dualisme), tetapi ciptaan-ciptaan menurut adanya tergantung pada Allah. Semuanya memiliki adanya dan tergantung pada ada sang pencipta sendiri. Hal ini berimplikasi bahwa lingkungan hidup dan manusia dalam keberadaannya mengembangkan hidup dan kehidupannya sesuai dengan rencana luhur sang pencipta.

3.2  Lingkungan hidup dan manusia berpartisipasi dalam adanya Allah.
Semua ciptaan Allah dengan adanya sendiri turut mengambil bagian/berpatisipasi dalam adanya Allah. Partisipasi tersebut bukan secara kuantitatif melainkan secara dependensi, artinya bukan seolah-olah setiap makhluk mewakili sebagian kecil dari tabiat ilahi, melainkan semua ciptaan menurut adanya tergantung mutlak dan berperan serta dalam diri sang Pencipta. Itulah sebabnya, manusia ditetapkan Tuhan sebagai wakil Allah yang bertugas untuk menghadirkan kebijaksanaan Allah di dunia. Sebagai wakil Allah, manusia tidak bisa secara bebas dan mutlak menggunakan kekuasaannya untuk mengusai lingkungan hidup, tetapi sebagai wakil pencipta, manusia harus menunjukkan dan menghadirkan kebijaksanaan Tuhan di tengah alam semesta.
Manusia tidak boleh bebas dan mutlak berkuasa atas ciptaan yang lain karena ciptaan yang lain juga memiliki cara beradanya sendiri dan bisa mengembangkan keberadaannya sesuai dengan kehendak sang pencipta. Manusia hanya diberi tugas dan dipanggil Tuhan untuk membantu lingkungan hidup agar menemukan keberadaannya yang khas. Tugas ini dijalani manusia karena manusia memiliki kelebihan yakni sebagai makhluk berakal budi.

3.3  Penciptaan itu Creatio Continua/Conservatio
Penciptaan tidak tergantung pada satu saat saja tetapi merupakan perbuatan Allah secara terus menerus. Penciptaan bukanlah suatu karya sekali jadi, melainkan suatu karya yang berlangsung terus menerus. Dengan perkataan lain, penciptaan itu sesuatu yang evolutif. Dengan perbuatan penciptaan itu, Allah terus-menerus menghasilkan dan memelihara segala yang bersifat sementara dalam karya ciptaanNya.
Kalau itu senantiasa diperbaharui maka segala sesuatu yang ada di alam semesta pun berkembang sesuai dengan adanya sendiri. Sangatlah keliru kalau ada ciptaan tertetu yang memonopoli dan menggunakan kewenangannya untuk menguasai dan bertindak sewenang-wenang terhadap yang lainnya.
Namun di atas semuanya itu, manusia adalah ciptaan Allah yang dilengkapi dengan aneka keistimewaan. Dia adalah makhluk berjiwa dan berbadan. Jiwa manusia memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan ciptaan yang lain karena memiliki lima daya yakni daya vegetatif, daya sensitif, daya yang menggerakkan, daya untuk berpikir dan daya untuk mengenal. Tugas manusia sebagai wakil Allah justru tampak pada bagaimana manusia melestarikan alam ciptaan Allah itu. Manusia mesti menjadi conservator yang terus menerus bertugas melestarikan alam agar tetap tampil sebagai kosmos yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

4.      PENUTUP
Pembicaraan mengenai persoalan lingkungan hidup dewasa ini merupakan bahan diskusi hangat dan aktual pada banyak kalangan dan dalam aneka situasi. Hal ini berpangkal pada kesadaran dalam diri manusia yang semakin takut dan cemas dengan keberadaan lingkungan hidup tempat manusia hidup yang kini berada di ambang kehancuruan.
Aneka kebijakan dan kearifan lokal yang telah hilang diterapkan lagi demi mengubah wajah bopeng bumi yang tercemar lantaran tangan-tangan jahil manusia saat ini. Banyak dana dikeluarkan untuk membiayai usaha-usaha manusia menata kembali kosmos yang kini mengarah kepada suatu chaos. Usaha-usaha itu akan berhasil apabila manusia sendiri telah merenungkan dan berpikir tentang lingkungan hidup itu sendiri.
Penulis berpikir bahwa gagasan kosmologi Thomas Aquinas yang berpijak pada kisah penciptaan merupakan salah satu bahan permenungan yang bisa membantu manusia dalam mengubah cara pandangnya terhadap lingkungan hidup. Perubahan paradigma tersebut pada gilirannya memotivasi manusia untuk menampilkan keberadaannya sebagai makhluk ciptaan yang istimewa yang bisa menyelaraskan kehidupan di alam semesta dan mengembalikan semuanya kepada kosmos (keteraturan). Masyarakat manusia dengan kelebihan daya jiwanya senantiasa memprakarsai kampanye menyelamatkan lingkungan hidup. Kampanye tersebut hendaknya benar-benar diwujudkan dalam kegiatan konkrit yang bersahabat dengan lingkungan hidup (eco-friendly).

End Note:
 [1] Pendapat ini dikutip dari Dion Pare, “Mengembangkan Relasi Etis dengan lingkungan » dalam Vox seri 37/3-4,1992, hal. 48
[2]Dikutip dari William Chang, Moral Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hal. 27
[3] Riwayat hidup dan karya-karya Thomas Aquinas ini diringkas dari Yulianus C. Haryon, “Thomas Aquinas: Permenungan tak Berkesudahan” dalam Vox/seri 46/4/2002, Maumere: Ledalero,2001, hal. 7-14
[4] Wiliam Chang, Op. Cit., p. 61
[5] Niko syukur Dister, “Thomas, Scotus dan Ochkam: Menyelaraskan Iman dan Akal Budi” dalam F.X. Mudjisutrisno dan F. Budi Hardiman (ed.),  Para Filsuf Penentu Gerak Zaman (Yogyakarta: Kanisius, 1992 )  p. 45
[6] Ibid., p. 46
[7] George Kirchberger, Pandangan Kristen tentang Dunia dan manusia, Maumere: Ledalero, 2002,  hal. 32
[8] Niko Syukur Dister, Op. Cit., p. 47
[9] Ibid
[10] Kaslan A. Thoir, Butir-Butir Tata Lingkungan, Jakarta: PT Bina Aksara, 1985, hal. 3
[11] Theo Huijbers, Manusia Merenungkan Dunianya, Yogyakarta: Kanisius, 1986, hal. 33

DAFTAR PUSTAKA

Chang, William. Moral Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Kanisius, 2001
Dister,Niko syukur. “Thomas, Scotus dan Ochkam: Menyelaraskan Iman dan Akal Budi” dalam F.X. Mudjisutrisno dan F. Budi Hardiman (ed.),  Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Yogyakarta: Kanisius, 1992
Haryon,Yulianus C. “Thomas Aquinas: Permenungan tak Berkesudahan” dalam Vox/seri 46/4/2002, Maumere: Ledalero, 2002
Kirchberger,George. Pandangan Kristen tentang Dunia dan manusia, Maumere: Ledalero, 2002
Pare, Dion. “Mengembangkan Relasi Etis dengan lingkungan”. dalam Vox seri 37/3-4,1992, Maumere: Ledalero, 1992
Thoir, Kaslan A. Butir-Butir Tata Lingkungan, Jakarta: PT Bina Aksara, 1985




Poskan Komentar